Penerimaan
Hidup Tanpa Orang Tua
Namaku adalah Intan, remaja berumur
17 tahun. Aku sudah tidak bersekolah,
karena setiap hari aku harus kerja menjadi karyawan di toko sembako di kotaku.
Aku tinggal bersama dua adikku yang
umurnya 6 dan 9 tahun. Karena itulah aku harus bekerja untuk menghidupi
dan membiayai adik-adikku. Orang tuaku entah kemana. Sejak di tinggal orang
tuaku, aku tinggal bersama nenekku yang juga sudah berusia senja. Tapi tak lama
dari itu, nenekku meninggal dunia. Saudara-saudaraku juga tak perduli pada
kami. Jadi, aku hidup bertiga bersama adikku. Setiap hari hidupku selalu sepi ,
itulah yang membuat aku tidak semangat untuk bekerja. Tapi meski bagaimanapun
aku harus bekerja untuk makan setiap harinya.
Ramainya jalan waktu minggu pagi itu
membuat aku gak kuat menahan air mata. Sambil memandang ramainya anak-anak
bersama orang tuanya kesana-kemari pergi
jalan-jalan. Sebenarnya aku ingin seperti anak-anak itu, bisa
senang-senang bersama orang tua. Aku gak mau terus sedih dalam derasnya air
mata ini. Aku mengusap air mata yang mengalir di pipi dan langsung berdiri
untuk mencari kesibukan lain untuk melupakannya. Tapi percuma, fikiran itu
mesti datang.
Setiap hari aku terus mikir, kenapa
orang tuaku tega meninggalkan aku dan adik-adikku. Rasa rindu kepada orang tua
terus ada dalam bayangan pikiranku. Aku ingin bertemu dengan orang tua. Ingin
di perhatikan oleh ibu, ingin di manja oleh ayah. Kadang ada rasa rindu yang
ada di fikiranku. Kadang ada rasa benci kepada orang tua yang telah meninggalkan
anak-anaknya. Fikiranku tak karuan. Untuk apa aku hidup, mati saja meninggalkan
kehidupan yang fatamorgana ini. Tidak ada yang memperhatikan hidupku, kehidupan
memang tak adil. Aku ingin juga berkumpul dengan orang tua yang menyayangi aku
dan adik-adikku. Ternyata hidup tidak indah seperti yang kita fikirkan. Aku
berfikir sudah tidak ada gunanya aku hidup.
Siang itu, aku pulang dari tempat
kerjaku. Pulang dengan hati yang sedih setiap harinya. Aku langsung menuju ke
kamar, ngeluapakn air mata yang mulai tadi mengganggu. Tidak banyak berfikir,
aku langsung mengambil silet tajam dan berniat untuk mengakhiri hidupku saja,
dengan memutuskan urat nadi tanganku menggunakan silet tajam itu. Tapi,
Deggg............ Hatiku mendengar suara adik-adikku tertawa. Aku langsung
menuju ke dapur tempat adikku. Ternyata suara ketawa dari adik-adikku yang
sedang makan, membuat hatiku menggugat. Makan dengan lauk seadanya. Waktu itu
aku memikir jauh ke depan. Bagaimana hidup adik-adikku jika tidak ada aku.
Siapa lagi yang akan merawat dan memberi perhatian ke adik-adikku. Aku mencoba
berfikir baik kepada Allah, mungkin Allah memiliki rencana lain untuk aku
kedepannya. Ternyata ada yang lebih membutuhkan aku, ia adalah adik-adikku yang
membutuhkan kasih sayangku.
Sejak itu aku tidak sedih lagi meski
orang tuaku tidak ada. Aku juga sudah memasrahkan kepada Allah. Di dalam sujud
setiap hariku, Cuma ada satu doa yang tidak lupa di ucapkan olehku. Yaitu
kembalinya ornag tuaku di kehidupan ku kembali.
Komentar
Posting Komentar